About

GKP Cirebon dirintis oleh seorang zendeling bernama A. Dijkstra. Ia tiba di Cirebon pada tahun 1864. Setelah empat tahun pelayanannya, Dijkstra membaptiskan dua orang penduduk asli dan seorang keturunan Cina bersama keluarganya. Sayang, nama penduduk aslinya tidak dapat ditelusuri lebih lanjut. Tetapi seorang keturunan Cina yang dibaptis bersama keluarganya diketahui bernama Letnan Yoe Pouw. Jemaat kecil ini beribadah di salah satu ruangan rumah Letnan Pouw. Inilah cikal bakal dari jemaat GKP Cirebon. Pada masa itu, kerap terjadi perpindahan tempat ibadah sampai kemudian menetap di satu tempat. Rumah ibadah ini masih dapat dilihat sampai sekarang, tetapi telah beralih fungsi menjadi pastori jemaat yang beralamat di Jl. Pulasaren No. 33 Cirebon.

Tidak dapat diketahui dengan pasti kapan terjadi perpindahan tempat ibadah dari Pulasaren No. 33 ke tempat ibadah sekarang di Jl. Yos Sudarso No. 10. Tetapi yang dapat diketahui adalah bahwa gedung gereja sekarang adalah eks Belanda yang diserahterimakan untuk dipakai untuk jemaat Gereja Kristen Pasundan Cirebon. Bangunan yang berdiri tahun 1778 sekarang telah menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang kepurbakalaan. Perpindahan ke bangunan gereja sekarang disebabkan antara lain bangunan gereja sebelumnya yang terletak di Pulasaren No. 33 adalah karena gedung gereja tersebut terkena serangan bom.

Jemaat GKP Cirebon mengalami banyak pasang surut kehidupan berjemaat.  Pasang surut ini antara lain menyangkut jumlah anggota jemaat.Bahkan pada satu masa, antara tahun 1980-an jemaat GKP Cirebon mengalami perpecahan. Pada saat itu banyak anggota jemaat GKP Cirebon yang keluar bersama dengan pendeta jemaat saat itu, Pdt. Anna Wokas Rondoh dan membentuk jemaat GPIB di Cirebon saat ini. Sedangkan pendeta Anna menjadi pendeta di GPIB.

Hal yang menonjol dari jemaat GKP Jemaat Cirebon sejak awal adalah bahwa jemaatnya heterogen. Dari catatan tahun 1885 diketahui bahwa jumlah anggota jemaatnya sebanyak 39 orang. Mereka terdiri atas 10 orang Jawa Barat, 13 orang keturunan Cina, dan 16 orang keturunan Indo serta Ambon.  Secara persentase, jumlah anggota jemaat dari suku Sunda lebih sedikit daripada etnis lain dari luar Jawa Barat.

Dalam perkembangannya, jemaat GKP Cirebon kini hanya melayani dua pos kebaktian. Yaitu Pos Kebaktian Panguragan Lor dan Pos Kebaktian Kancana Girang. Sedangkan Pos Kebaktian Tangkolo dan Pos Kebaktian Cibunut terlepas dari koordinasi pelayanan GKP Cirebon. Hal ini disebabkan karena kurangnya pelayanan yang diberikan jemaat induk kepada kedua pos kebaktian tersebut.

Sedangkan Pos Kebaktian Cigugur mengalami perkembangan dan peningkatan status menjadi Bakal Jemaat GKP Cigugur. Pada tanggal 11 Oktober 2010, bakal jemaat GKP Cigugur diresmikan menjadi jemaat ke-56 GKP.

Data Jemaat

GKP Cirebon                                         135 KK dengan jumlah jiwa keseluruhan 315 orang
Pos Kebaktian Panguragan                    7 KK dengan jumlah jiwa keseluruhan 20 orang
Pos Kebaktian Kancana Girang              7 KK dengan jumlah jiwa keseluruhan 15 orang

Warga Jemaat GKPCirebon berjumlah 350 jiwa (di induk dan di kedua pos kebaktian)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s